Sabtu, 02 Mei 2020

Review Yokusuko No Neverland

Yakusoku no Neverland (bahasa Jepang約束のネバーランド HepburnYakusoku no Nebārando), yang diterbitkan di Indonesia dengan judul The Promised Neverland, adalah sebuah seri manga shōnen Jepang yang ditulis oleh Kaiu Shirai dan diilustrasikan oleh Posuka Demizu. Manga ini dimuat berseri dalam majalah Weekly Shōnen Jump sejak bulan Agustus 2016, sementara bab-bab tunggalnya telah dibundel dan diterbitkan oleh Shueisha menjadi delapan belas volume tankōbon hingga bulan April 2020. Ceritanya mengisahkan tentang sekelompok anak yatim yang berencana untuk kabur dari sebuah panti asuhan.
Sebuah adaptasi anime yang diproduksi oleh CloverWorks ditayangkan sejak tanggal 11 Januari hingga 28 Maret 2019 pada blok pemrograman Noitamina. Musim kedua akan tayang pada bulan Oktober 2020.
Viz Media telah melisensi manga ini di Amerika Utara dan memuat The Promised Neverland dalam majalah digital Weekly Shonen Jump milik mereka.
Hingga bulan September 2019, manga ini telah terjual sebanyak lebih dari 16 juta kopi. Pada tahun 2018, manga ini memenangkan Penghargaan Manga Shogakukan ke-63 untuk kategori shōnen.
Review:

The Promised Neverland atau yang juga dikenal dengan Yakusoku no Neverland merupakan manga mahakarya dari Kaiu Shirai (Pengarang) yang berkolaborasi dengan Posuka Demizu (Ilustrator). The Promised Neverland mulai dipublikasikan sejak 1 Agustus 2016 dan statusnya masih ongoing alias belum tamat.
Manga yang satu ini sangat menarik dan berhasil menyedot perhatian seluruh dunia dengan pujian yang tidak sedikit dari bermacam komunitas pencinta kultur pop Jepang. Bila kamu penggemar Death Note, Shingeki no Kyojin/Attack on Titan, Battle Royale, Cage of Eden/Eden no Ori atau Btooom!, kemungkinan besar kamupun bakal menyukai manga yang satu ini
.

Sinopsis

Emma, seorang gadis berumur belasan sedang menikmati hari-harinya yang dikelilingi kelembutan, kenyamanan, dan kasih sayang di sebuah panti asuhan bernama Green Field House. Walaupun tanpa orang tua, dia selalu merasa bersyukur karena hari-harinya tetap berarti dengan kehadiran saudara-saudarinya yang tidak sekandung di tempat itu.
Ditambah dengan kehadiran Mama Elizabeth yang merupakan pengurus dan penanggung jawab dari Green Field House. Hampir semua kebutuhan fisik dan mental dari Emma dan teman-temannya terpenuhi di tempat itu hampir tanpa sedikitpun kekurangan.

The Promised Neverland atau yang juga dikenal dengan Yakusoku no Neverland merupakan manga mahakarya dari Kaiu Shirai (Pengarang) yang berkolaborasi dengan Posuka Demizu (Ilustrator). The Promised Neverland mulai dipublikasikan sejak 1 Agustus 2016 dan statusnya masih ongoing alias belum tamat.
Manga yang satu ini sangat menarik dan berhasil menyedot perhatian seluruh dunia dengan pujian yang tidak sedikit dari bermacam komunitas pencinta kultur pop Jepang. Bila kamu penggemar Death Note, Shingeki no Kyojin/Attack on Titan, Battle Royale, Cage of Eden/Eden no Ori atau Btooom!, kemungkinan besar kamupun bakal menyukai manga yang satu ini.
Daripada terlalu banyak lama, mari kita langsung masuk pada babak ulasan tentang The Promised Neverland!

Sinopsis

Emma, seorang gadis berumur belasan sedang menikmati hari-harinya yang dikelilingi kelembutan, kenyamanan, dan kasih sayang di sebuah panti asuhan bernama Green Field House. Walaupun tanpa orang tua, dia selalu merasa bersyukur karena hari-harinya tetap berarti dengan kehadiran saudara-saudarinya yang tidak sekandung di tempat itu.
Ditambah dengan kehadiran Mama Elizabeth yang merupakan pengurus dan penanggung jawab dari Green Field House. Hampir semua kebutuhan fisik dan mental dari Emma dan teman-temannya terpenuhi di tempat itu hampir tanpa sedikitpun kekurangan.
Hari-hari Emma berubah ketika ia diam-diam mengikuti Conny, temannya yang baru saja mau pergi dari Green Field House dengan dalih telah diadopsi. Emma yang mengintip kepergian Conny pun tampak kaget dengan kenyataan yang harus ia alami: Conny ternyata dibunuh untuk dijadikan santapan para Demon.
Singkat cerita, perlahan Emma mulai mengetahui latar belakang dari berdirinya Green Field House: tempat itu bukan panti asuhan, melainkan sebuah peternakan manusia demi memuaskan selera para Demon. Perlahan pun diketahui bahwa Mama Elizabeth bekerja sama dengan para Demon dan berperan sebagai ‘peternak,’ sedangkan anak-anak panti adalah ‘ternaknya’.
Emma harus menghadapi kenyataan pahit bahwa anak-anak panti dari Green Field House adalah ‘ternak’ untuk menghasilkan ‘makanan berkualitas premium’ untuk para Demon. Dengan modal kecerdasan yang memang ia dapatkan dari Green Field House, ia merencanakan sebuah pelarian besar demi membebaskan nasib mereka yang tak tertata.
Akhirnya, 3 murid terbaik dan tercerdas dari institusi Green Field House; Emma, Norman, dan Ray pun merencanakan sebuah pelarian yang mereka susun secepat dan serapih mungkin. Bisakah kecerdasan mereka menerabas kejamnya realitas?

Latar Cerita

The Promised Neverland mengambil latar cerita bahwa dunia telah genap berumur 2045. Pada prolog pun diceritakan bahwa manusia bukanlah pemegang hierarki tertinggi dalam sistem ‘rantai makanan’.
Dengan awal cerita yang seperti dijelaskan pada sinopsis, membuat kita akan percaya bahwa dunia pada tahun 2045 adalah dunia pasca-apokaliptik yang telah dikuasai oleh Demon. Orang dewasa terlukiskan tidak lain adalah pengabdi para Demon yang lebih memilih menjadi budak untuk tetap hidup.
sejauh ini hampir tidak ada celah untuk mengatakan bahwa karya ini tidak baik. Semua aspek yang diracik sedemikian apik telah menghasilkan suatu suguhan yang baru bagi para pencinta manga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar